UstadzSegaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini

Intisari Dari CatatanTABAYYUN KEPADA SYIAHSaya Dari Anti Syiah Menjadi Simpatisan SyiahOleh Akbar Nur Hasan Assalamu’alaikum.. Maaf sebelumnya jika tulisan saya ini dinilai kurang berkenan dan mengganggu. Saya hanya ingin mengajak anda bertabayyun kepada syiah melalui catatan yang saya buat ini berdasarkan hasil pembelajaran dan analisis saya terhadap ajaran syiah selama beberapa tahun lamanya. Tapi sebelum ini agar anda percaya bahwa saya tidak sedang bertaqiyah, maka saya awali dulu dengan bersumpah bahwa demi Allah, sampai dengan sekarang saya tidak pernah bertemu lalu berkenalan dengan orang - orang syiah, atau tidak ada satu orangpun yang pernah saya temui, mereka mengaku sebagai orang syiah. Jika saya berbohong, maka saya siap mati binasa dilaknat oleh Allah! Saya juga bersumpah bahwa demi Allah, tidak ada sedikitpun keuntungan materi yang saya dapatkan dari usaha membela mazhab syiah yang dizhalimi ini, tidak ada yang menyuruh saya, hal ini murni atas inisiatif pribadi, semata – mata karena Allah sekaligus demi kebaikan kita bersama di dunia ini & akhirat kelak. Oleh karena itu jika anda mengaku sebagai mukmin yang bijak, adil dan objektif, mukmin yang memegang teguh agama islam ini dengan kebenaran sejati seumpama menggenggam panasnya bara api, maka tidak ada salahnya untuk anda mau mempelajarinya. [SKIP]... [SKIP]... [SKIP]... Awalnya saya hanya tahu syiah sekedar nama dan hal - hal negatif mengenainya, sehingga sayapun menjadi orang yang anti syiah dan ikut pula mencaci maki mereka sebagai golongan yang sesat. Namun walau begitu, seingat saya, saya tidak pernah sekalipun sampai hati ikut – ikutan latah mengatakan bahwa syiah bukan islam, sebelum saya dapat mencari tahunya sendiri. Dari sinilah awalnya tergerak hati saya untuk mencoba bertabayyun kroscek kepada mereka walaupun itu hanya melalui media internet, karena saya tidak pernah bertemu secara langsung dengan orang – orang syiahnya sendiri. Setelah saya pelajari beberapa tahun lamanya 2015-2017 dengan perbandingan antara pendapat sunni baik yang pro maupun kontra terhadap syiah, dan dari pendapat syiahnya sendiri, hasilnya cukup mengejutkan dan membuat sedih hati ini, karena ternyata saya banyak menemukan fakta bahwa selama ini yang disebarkan oleh pihak - pihak anti syiah untuk menyerang paham syiah adalah dengan menggunakan hadits - hadits dha’if lemah, ma’udhu palsu, bahkan sengaja dipalsukan isi kitabnya oleh mereka. Pemalsuan ini utamanya ditemukan dari kitab - kitab syiah literatur induk yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa asing. Hal ini bukan saja diketahui dari hasil penelitian oleh pihak syiahnya sendiri, tetapi juga dari pihak sunni pun pernah meneliti dan melaporkannya demikian. Maka jika anda bertabayyun dengan membaca buku atau kitab - kitab syiah dari penerbit yang tidak atau kurang bisa dipercaya, yang dari bahasa arab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa kita melayu/indonesia atau ke bahasa – bahasa lainnya, lalu melihat ada konten yang dinilai berlebihan dan tidak sesuai dengan akal sehat, itu bisa jadi kitabnya telah dipalsukan. Ini adalah salah satu bukti dari pemalsuan tersebut Pihak anti syiah itu telah berperilaku jahiliyah dengan mengutip hadits - hadits atau pernyataan dari kitab - kitab syiah yang isinya sangat melampaui batas, padahal setelah diteliti ternyata tidak seperti dalam kitab asli yang dirujuk. Mereka dengan keji mengubah, memotong dan membuat hadits - hadits atau pernyataan - pernyatan palsu hasil karangan mereka sendiri pada kitab - kitab syiah terjemahan. Beberapa contoh diantaranya 1 “Allah tidak tahu masa depan para hamba-Nya sedangkan para imam mengetahuinya”, ini pemalsuan dari kitab Ushulul Kaafi hal 40 sebagaimana kasyful Asrar hal 99 yang hasil pengkajiannya dapat dibaca pada link diatas. 2 “Ali adalah dzat yang awal dan yang akhir”, ini pernyataan Ali yang dikutip sepotong dan hanya bermakna kiasan saja. Selengkapnya 3 “Malaikat Jibril salah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad yang seharusnya diserahkan kepada Ali”, ini pernyataan dari syiah ghulat/ekstrim yang tidak ada hubungannya dengan syiah imamiyah di jaman ini. Selengkapnya Tapi menurut Ibu Emilia Renita AZ yang pernah difitnah berkata begitu dalam sebuah screenshot facebook, beliau membantahnya dan mengatakan bahwa tidak ada syiah ghulat itu, sehingga menurutnya hal tersebut hanyalah sejarah yang direkayasa. Namun sayang, dari pihak syiahnya sendiri banyak yang termakan manipulasi sejarah itu. 4 “Wanita syiah yang bersuami boleh di mut’ah secara bergilir oleh banyak pria dalam durasi waktu yang sangat singkat”, ini pemalsuan dari kitab Tahriir Al Wasiilah 2/265 masalah 17 yang link bantahannya terdapat di poin ke 4 tentang nikah mut’ah terkait dusta al-Amiry. 5 “Memakan tahi/kotoran para imam dijamin masuk surga”, ini pemalsuan dari kitabul anwar wilayah rasul Bab Thaharah, hal 440 yang bantahannya terdapat di poin ke 11. Dan sebagainya. Saya bersyukur dapat tahu atas syubhat yang dibuat - buat ini. Karena kebenaran lebih berharga dari apapun. Setidaknya karena ini saya berhenti menghujat syiah lagi. Jika anda berpikiran kritis dan sebelumnya pernah mendapati seperti 5 hal diatas, tentulah anda akan punya sedikit/banyak rasa curiga dan keraguan untuk mempercayainya. Karena logikanya, hampir mustahil syiah jika memang benar kesesatannya melampaui batas seperti itu, mereka bisa tetap eksis dan berkembang dari jaman dulu sampai dengan sekarang yang sudah berjalan selama ribuan tahun lamanya. Terlebih disisi mereka banyak sekali para habaib atau dzuriyyat ahlul bait nabi, alim ulama dan hafidzul Qur’an. Selengkapnya Baca disini Versi web => Versi PDF => NB Pernyataan ttg Syahadatnya syiah, Sholatnya syiah, Nikah mut’ah, Syiah mencaci maki para Sahabat, Syiah menyembah Ali sbg Tuhan, Syiah menabikan Ali, Taqiyah, Siapa saja ahlul bait, Siapakah Abdullah bin Saba, Al Qur’an syiah beda dgn sunni, tradisi menyiksa diri di hari asyura, syiah makan tai imamnya dijamin masuk surga, isu konflik suriah, dll semua itu sudah dibahas pada tulisan saya diatas. Jadi silahkan dibaca secara utuh utk menambah wawasan keagamaan anda dan dalam rangka bertabayyun kepada mazhab syiah. Jika anda tidak bersedia, maka jangan sampai anda menyalahkan takdir Allah atas banyaknya dosa besar dan balasannya yang akan menimpa anda di akhirat kelak. Salahkanlah diri anda sendiri, karena saya sudah pernah mengingatkannya namun anda acuhkan begitu saja. Atas perhatiannya terima kasih.
  1. ረպበриሴумο оդоςεፗυвι уպиዧи
  2. Диኇы ηежушαλ οзв
  3. Αзαሙиጡиኯи ጄօςመрсጾፔէ
    1. Гፅнатօши оφе
    2. Глጴτиጀθр йև
KelompokSyiah di Kenya dibawa oleh kelompok Dawoodi Bohra dari India yang bermahzah Mustaali Ismaili. Dawoodi Bohra tiba di Afrika Timur pada abad ke-19 di Zanzibar dan Lamu. Tujuan awal mereka adalah berdagang perangkat keras, kaca kemudian berkembang menjadi real estate dan konstruksi. Junlah pengikut Dawoodi Bohra sekitar 6500-8000 di Kenya Pasuruan, NU Online Ratusan umat Islam Syiah melaksanakan tahlil khusus untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam YAPI Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu. Pengajar Pesantren YAPI, Ustadz Segaf Assegaf menjelaskan, tahlil khusus tersebut untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralis yang tidak membeda-bedakan kelompok. Dia menyebutkan, meski Gus Dur tidak pernah mendatangi Pesantren YAPi di Bangil, umat islam Syiah merasa telah dibelanya. Ustadz Segaf mengatakan, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Alquran berbeda dari umat Islam lainnya, Gus Durlah yang melakukan klarifikasi bahwa Al Quran umat Syiah sama dengan Alquran umat Islam lainnya. Ustadz Segaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini hanya keniscayaan semata. Ia menjelaskan, umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan, tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kepala YAPI Bangil, Ustadz Abdul Mukmin menjelaskan, Yayasan Pesantrean Islam YAPI Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil sekitar tahun 1974. YAPI Bangil sebelumnya berada di Bondowoso. Namun pada tahun 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji, untuk santri putranya. Sedangkan santri putrinya masih berada di Kota Bangil. Jumlah santri YAPI sebanyak 315 santri putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Sementara YAPI hanya ada di Bangil, tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah khusus agama Islam. ant/mad

GusDur (Abdurrahman Wahid), pasti kita sudah mengenal beliau. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sosok beliau yang sarat pemikiran cemerlang. Sebelumnya, mungkin sudah ada yang posting tentang syi’ir ini di kompasiana. Namun kiranya posting saya ini dapat juga bermanfaat bagi semua. Pemikiran Gus Dur terus dikembangkan dan

SURABAYA - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Timur memilih untuk merangkul warga Syiah di Sampang, Bondowoso, dan Jember, karena mereka umumnya warga yang tidak tahu tentang Syiah, sehingga tidak perlu dimusuhi. "NU sudah memutuskan bahwa Syiah itu sesat secara akidah, tapi NU memilih cara yang santun, dialogis, humanis, dan tidak melihat warga Syiah sebagai musuh, justru kami rangkul," kata Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syafrudin Syarif di Surabaya, Kamis 19/12. Di hadapan 200 lebih peserta seminar bertajuk "Menyikapi Konflik Sunni-Syiah dalam Bingkai NKRI" yang diadakan Aswaja Center PWNU Jatim itu, ia mengatakan NU memilih cara yang humanis untuk menjaga keutuhan NKRI. "Syiah itu sangat berbeda jauh dengan Sunni secara akidah, tapi kami memilih cara yang santun agar mereka kembali pada jalan yang lurus, karena kami menilai warga Syiah itu umumnya tidak tahu persis Syiah secara akidah," katanya. Menurut ulama muda dari Probolinggo itu, tokoh NU KH Abdurrahman Wahid Gus Dur memang pernah melontarkan pernyataan bahwa orang NU itu lebih Syiah daripada orang Syiah, tapi pernyataan itu bukan berarti kooperatif pada Syiah. "Maksud Gus Dur yang sebenarnya adalah NU itu mengakui empat sahabat nabi yakni Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, sedangkan Syiah hanya mengakui Ali, sehingga NU 'lebih' daripada Syiah karena tidak hanya mengakui Ali, tapi sahabat lain pula," katanya. Dalam seminar itu, pembicara lain, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat, Prof Dr Mohammad Baharun SH MA, menyatakan Gus Dur juga pernah menyatakan Sunni adalah Syiah minus imamah. "Itu artinya Gus Dur menunjukkan kepada kita bahwa Syiah mengakui imamah," katanya. Namun, ia meminta masyarakat untuk berhati-hati karena Syiah itu menganut prinsip kontradiksi, antagonis, dan ambivalen. "Kalau Syiah versi Ali Syariati dan Syiah versi Muthohhar itu berbeda, maka perbedaan itu disengaja, agar masyarakat merasa ada hal yang benar dari Syiah," katanya. sumber AntaraBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Melansirlaman Facebook Gus Ulil, “berawal ketika Pak Quraish naik pesawat bersama Dr. Ahmad al-Thayyib, Syaikhul Azhar sekarang. Antara Pak Quraish dan Syekh Thayyib banyak melakukan obrolan. Di tengah obrolan, tiba-tiba Syekh Thayyib berbisik-bisik kepada M. Quraish Shihab tentang laporan yang sampai ke kantornya Syekh Thayyib.
Gus Dur Syiah adalah NU Plus Imamah’ Menurut budayawan Koentjoroningrat, terdapat tiga lapisan kebudayaan, yaitu ideofak, sosiofak, dan artefak. Tradisi dan budaya keagamaan memiliki tiga level/lapisan. Level terluar disebut artefak berupa simbol-simbol; level tengah disebut sosiofak berupa amalan ritus; dan level terdalam disebut ideofak berupa ide dan nilai dasar yang melandasi kedua lapisan lainnya. Ideofak adalah makna dan pesan inti dari tradisi dan budaya keagamaan. “Gus Dur pernah menyatakan bahwa NU adalah Syiah kultural. Gus Dur melihat ini dari kacamata kultural, bahwa tradisi-tradisi yang dijalankan orang NU sebagian mengindikasikan adanya pengaruh Syiah.” Agus Sunyoto, Baca juga Syahadat Syiah Berbeda dengan Ahlusunah? Apa yang dinyatakan Gus Dur merupakan refleksi beliau untuk mengungkap lapisan ideofak yaitu sistem makna yang tersembunyi di balik berbagai tradisi yag dijalankan oleh NU. Gus Dur memahami betul bahwa di balik simbol dan ritus terdapat lapisan ideofak, sistem signifikansi, dan itu adalah nilai dan spiritualitas Syiah. “Titik temu antara kita umat Islam Indonesia, terutama warga NU dengan Syiah yaitu seperti mahabbah Ahlulbait, sangat mencintai Habaib, Ahlulbait, cium tangan guru, cium tangan orang yang kita muliakan sama antara kita dan tradisi Syiah, baca Barzanji, baca Diba’, baca shalawat, haul, ziarah kubur, tawassul sama antara kita dan Syiah.” Prof. Dr. KH. Said Agil Sirajd Baca juga Menjawab Tudingan Mazhab Syiah adalah Sebuah Gerakan Politik Selain Sumatera dan Jawa, jejak spiritualitas Syiah juga ditemukan di berbagai daerah di Nusantara seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Sulu, Thailand, dan Malaysia. Di Sulawesi, peringatan Asyura masih dilangsungkan di beberapa wilayah meski tidak dilakukan secara kolosal seperti di Aceh, Bengkulu dan Pariaman. Masyarakat Muslim memperingatinya dengan memasak bubur khusus yang dikenal dengan bubur asyuro’. Sebagian besar orang Mandar menganggap bulan Muharam sebagai bulan bencana dan kedukaan yang tidak baik untuk menyelenggaraan perayaan kegembiraan seperti pernikahan, sunatan atau pendirian rumah. Dalam sebuah penelitian disertasi tentang identitas keagamaan di sebuah komunitas Muslim di Hatuhaha di Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Huraku, Maluku Tengah, seorang promovendus Universitas Gadjah Mada berhasil mempertahankan hasil penelitiannya. Namanya WW Salah satu temuan penting dari penelitian Yance Rumahuru adalah bahwa Syiah merupakan paham Islam yang pertama hadir di Hatuhaha, Pulau Haruku, Maluku Tengah. Sebagai seorang Nasrani, Dr. Yance tidak memiliki dilema antropologis yang mungkin dialami oleh seorang Muslim Sunni atau Syiah dalam penelitian ini. Sarjana lulusan Program Lintas Agama dan Budaya Pascasarjana UGM ini, menemukan sejumlah tradisi Syiah yang telah menjadi adat dan tradisi komunitas Muslim Hatuhaha. Baca juga Ali bin Abi Thalib Diagungkan Syiah, Sunni, dan Non-Muslim “Belakangan orang baru bilang bahwa Islam di Maluku im Sunni. Namun sebenarnya setelah saya melakukan penelitian tahun 2009-2011, saya menemukan bahwa di Maluku Tengah justru yang ada di sana adalah Islam Syiah. Kehadiran Islam di Maluku sendiri sebenarnya bisa ditarik ke belakang jauh sebelum kedatangan Portugis dan Belanda. Saya menemukan bahwa di abad ke-7, 8 dan 9 sudah ada orang-orang Cina dan orang Arab yang sebenarnya itu bukan orang Arab murni, tapi ada orang Persia yang datang juga ke Maluku dan mereka itu yang memperkenalkan Islam. Islam baru melembaga di Maluku baru pada abad ke-13, tapi di abad ke-7, 8 dan 9 itu saat perdagangan yang ramai. Islam sudah ada dengan kehadiran orang-orang Arab, Persia dan Cina tersebut. Pedagang Cina tidak diketahui agama mereka apa, tapi orang Persia dan Arab adalah Islam dan itu Syiah. Mengapa Syiah diterima di Maluku, karena tradisi-tradisi dan ajaran-ajaran Syiah itu cocok dengan budaya orang Maluku dan sebenarnya ritual-ritual Syiah memiliki kesamaan dengan ritual-ritual yang ada di Maluku. Karena itu lalu saya berkesimpulan bahwa sebenarnya Islam yang tertua di Maluku adalah Islam Syiah. Jadi, sebenarnya untuk menyebutkan bahwa Islam Maluku adalah Syiah terutama di Maluku Tengah. Ritual-ritual keagamaan dan ritual adat yang sudah disatukan dan itu adalah ritual-ritual Syiah. Baca juga Syiah Hakiki dalam Pandangan Sayyidah Fathimah Di Maluku Tengah, terutama di pulau Haruku ada komunitas Muslim Hatuhaha yang mempunyai ritual tiga tahunan, namanya Maatenu. Pemimpin ritual itu disebutkan sebagai garis lurus keturunan dari Ali. Di dalam “maatenu” tersebut sebenarnya seruan-seruan yang dinaikkan adalah seruan-seruan untuk memuji Ali. Pedang yang digunakan, pakaian yang digunakan semuanya mengindikasikan simbol-simbol Syiah. Saya punya penelitian menunjukkan hal itu. Seluruh ritual-ritual yang lain termasuk tradisi maulid yang di kalangan Islam di Nusantara cukup hidup. Di sana mereka tidak hanya merayakan kelahiran Nabi saja, tapi kelahiran-kematian dan penghormatan kepada sahabat-sahabat Nabi dan terutama sebenarnya mereka merujuk kepada Ali. Dalam tradisi Perkawinan, selain ijab kabul mereka itu selalu mengatakan “Ali suka Fatimah, Fatimah suka Ali dan itu sah.” Dr. Yance Rumahuru Ternyata, seperti karakteristik umumnya di berbagai daerah Nusantara, paham Syiah mengalami proses pribumisasi sedemikian rupa sehingga Syiah di Pulau Haruku disebut dengan istilah Islam Adat. Baca juga Toleransi Muslim Syiah “Dalam konteks komunitas Muslim di Pulau Hatuhaha Maluku Tengah itu, masyarakat sendiri sejak tahun 1939 mereka membagi diri menjadi Kelompok Syariah dan Kelompok Adat. Mengapa demikian? Itu terjadi setelah di akhir abad ke-18 dan 19 ada banyak orang dari Maluku Tengah yang belajar Islam ke Arab dan kemudian mereka kembali. Generasi itulah yang kemudian mensponsori untuk memurnikan Islam dan menjalankan syariat secara baik dan itu menjadi alasan utama untuk memisahkan diri dari kelompok mayoritas Syiah yang sebetulnya menyatu dengan kultur lokal masyarakat setempat sehingga mereka menyebutkan diri sebagai Kelompok Syariah dan kelompok Syiah yang mayoritas di posisikan sebagai Kelompok Adat. Dalam tradisi keagamaan setiap saat sebenarnya tidak ada pertentangan antara Kelompok Syariat dan Kelompok Adat. itu tampak dalam pelaksanaan setiap ritual. Setiap ritual yang dilaksanakan di Kelompok Adat, Kelompok Syariah juga berpartisipasi dan sebaliknya.” Dr. Yance Rumahuru Syiah juga telah hadir di Thailand, terutama di kota Ayutthaya Ayodya, ibukota Kerajaan Siam abad 14-18 M. ”Lebih dari seribu tahun yang lalu muslim dari Timur Tengah, Persia, India datang ke Thailand. Kami menemukan bukti-bukti adanya komunitas muslim di berbagai daerah Thailand seperti Ayutthaya. Ayutthaya merupakan ibu kota Thailand pada abad 14 hingga 18. Kami mengenal banyak tentang komunitas Muslim di kerajaan Ayutthaya, khususnya di kota Ayutthaya ibu kota Thailand. Saat ini ada beberapa reruntuhan dari desa Syiah di Ayutthaya dan reruntuhan masjid muslim Syiah. Tapi sekitar abad 18 dihancurkan oleh musuh. Karena Ayutthaya merupakan pusat muslim Syiah dari Iran dan daerah selatan India. Kami menemukan bukti-bukti kebudayaan muslim Syiah di Thailand khususnya bangunan, kultur dan kami menemukan lukisan dinding di Tatum yang menggambarkan tentang penyelanggaraan acara Asyura. Di Thailand kami menyebut acara ini Muharam yang merupakan acara atau perayaan yang sangat terkenal di Thailand.” Dr. Julisprong Chularatana Baca juga Sunni CIA dan Syiah MI6 Bekerja Memecah-belah Umat Islam Di Malaysia, Syiah tentu saja juga sudah hadir sejak sejarah awal Islam melalui berbagai literatur hikayat yang mengisahkan perjuangan Ahlulbait Nabi Muhammad SAW menegakkan kebenaran dan keadilan. “Pedagang-pedagang Persia telah datang untuk berdagang di alam Melayu seperti di Malaka, Aceh dan pusat-pusat perdagangan yang masyhur ketika itu. Sehingga dapat dilihat bahwa unsur-unsur Persia telah menular dalam aspek-aspek tertentu masyarakat Melayu di Asia Tenggara. Sebagai contohnya dari sudut bahasa. Banyak sekali bahasa-bahasa yang dipengaruhi oleh persia, contohnya terdapat hikayat Hasan dan Husein, hikayat Nur Muhammad, hikayat Hanafiyah.” Dr. Rabithah Mohammad Ghazali Seorang pengkaji literatur dan hikayat Melayu, Dr. Mohammad Faisal bin Musa, berkesimpulan bahwa sejumlah hikayat Melayu Yang muncul sejak awal mula kedatangan Islam ke Semenanjung Malaka adalah karya klasik Melayu yang mengandung ajaran Syiah dan bukan hikayat Sunni dengan pengaruh Syiah. Sarjana Universitas Kebangsaan Malaysia ini melakukan analisis teks terhadap sejumlah hikayat seperti Hikayat Muhammad Hanafiyyah, Hikayat Hasan Husen Tatkana Kanak-kanak, Hikayat Hasan Husen Tatkala Akan Mati, dan Hikayat Tabut. Baca juga Syiah-Sunni di Bawah Panji Imam Husain Mohammad Faisal menyebutkan pula bahwa sejak kedatangan Wahabi abad ke-19, hikayat-hikayat Melayu yang memuat ajaran Syiah itu mengalami apa yang disebutnya sebagai de-Syiahisasi. Sejumlah ajaran khas Syiah dinetralisasi dengan mengubah isi kisah, “Ada kecenderungan ahli-ahli yang datang dari tanah Arab yang kurang apresiatif terhadap Ahlulbait sehingga misalnya hikayat Muhammad Ali Hanafiyah diganti menjadi hikayat Hasan Husain, tapi hikayat Hasan Husain ini juga akhirnya diganti lagi, supaya tidak dimekarkan.” Prof. Dr. Abdul Hadi Pertanyaan yang muncul sekarang adalah Apakah semua tradisi, budaya dan literatur yang begitu kental memuat ajaran dan spiritualitas Syiah yang hadir di berbagai wilayah Nusantara sejak awal kedatangan Islam muncul begitu saja hadir semuanya serba kebetulan? Jika memang tradisi sanjungan dan pembelaan kepada keluarga Nabi dianggap sebagai ajaran Islam pada umumnya, mengapa banyak umat Islam di Nusantara saat ini tidak mengenal siapakah Sayyidah Fatimah, siapakah Al-Hasan, siapakah Al-Husain? Mengapa tragedi Karbala yang membantai keluarga Nabi hampir pupus dalam kurikulum pengajaran Islam? Akal sehat dan nurani yang bening diundang untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut. Dikutip dari buku Menguak Akar Spiritual Islam Indonesia, Peran Ahlulbait dalam Penyebaran Islam di Nusantara. Penulis TIM ICRO dan Tim ACRoSS Baca juga “SYIAH” ABI Post Views 10,010
Alihalih mendefinisikan Syiah, Gus Dur memberikan sebuah perumpamaan yang bermain dengan logika komparatif plus agak matematikal bahwa secara kebudayaan,
Ulama ensiklopedis, demikian cendekiawan muda NU Zuhairi Misrawi menyebut KH Jalaluddin Rakhmat, itu telah pulang ke Rahmatullah, Senin, 15 Februari lalu. Terus terang, saya sangat kaget. Tak dengar kabar sakitnya. Begitu tiba-tiba, Covid-19 telah merenggutnya, menyusul istri tercinta yang wafat empat hari sebelumnya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’ akhir Desember lalu, saya dan Haddad Alwi, sebenarnya sudah merencanakan sowan ke Bandung. Tak lain, ingin mendiskusikan banyak hal, tentang ukhuwah Islamiyyah, tentang persaudaraan kebangsaan, dan lain-lain. Tapi belum terlaksana, Kang Jalal, begitu Jalaluddin Rakhmat kerap disapa, sudah kembali ke kita semua kehilangan. Bagi saya pribadi, Kang Jalal sudah tak asing lagi. Namanya sudah saya kenal sejak awal 1990-an. Di antara karyanya, seperti Islam Alternatif 1986, Islam Aktual 1991, Renungan Sufistik 1991, juga Retorika Modern 1992, menjadi bacaan “wajib” yang sampai saat ini masih suka saya telaah 1993, bersama kawan-kawan gerakan dan forum kajian di Jombang, dulu pernah menghadirkannya dalam kajian tentang pemikiran Ali Syari’ati. Pemikiran yang sangat digandrungi para mahasiswa saat itu. Mereka merindukan gerakan alternatif mungkin karena kebuntuan-nya dalam menghadapi “represivitas” Orde Baru. Kang Jalal menyuntikkan semangat khusus, “virus” spiritualitas, di tengah dahaganya gerakan aksi mahasiswa yang seringkali hanya bermodalkan spanduk, pers release, dan kadang “caci maki” situlah, untuk pertama kalinya, saya bertemu dan berbincang cukup lama. Kang Jalal sangat santun dan bersahaja. Saya waktu itu baru berumur 23 tahun, sementara Kang Jalal sudah 45 tahun. Jarak yang cukup jauh, tak membatasi keakraban kami. Sikap “ngemong”-nya bagi saya luar biasa. Keramahannya, mau menjadi pendengar yang baik, dan friendly, itulah akhlaq yang harus kita yang sejak lahir memang NU, saat itu sudah aktif di PMII, tentu sangat mengagumi Gus Dur. Bahkan kemudian kawan-kawan sering menyebut saya Gusdurian. Di situlah kemudian saya “menyambungkan-diri” dengan Kang Jalal. Ternyata efektif. Mungkin karena dia juga ahli komunikasi, pertemuan saat itu menjadi sangat komunikatif. Tak ada jarak, meskipun saat itu Kang Jalal terbilang sudah menjadi cendekiawan ternyata, baru saya ketahui belakangan ini, menurut pengakuan Kang Jalal sendiri, dia lahir dan dibesarkan di lingkungan NU. Hanya kemudian, setelah pindah ke kota, kuliah di Bandung, dia lebih aktif di Muhammadiyah. Dengan demikian, hemat saya, Kang Jalal adalah NU yang Muhammadiyah atau sebaliknya, sebutan yang nge-trend Muhammad Gus DurTeman saya, Wakil Katib Syuriyah PBNU Sa’dullah Afandi, berbagi cerita kenangan. Saat itu, tepatnya pada 1997, dia ditugaskan redaktur Warta NU untuk wawancara khusus dengan Kang Jalal di Bandung. Seusai wawancara, dia memberanikan diri bertanya secara pribadi. “Kang, kenapa Anda seorang Muhammadiyah koq hijrah’ ke Syiah?” Demikian Jalal pun kemudian membuka cerita. Bahwa dia—yang saat itu sudah menjadi mubaligh yang punya nama di Muhammadiyah—telah bertahun-tahun mengisi pengajian bulanan di RS Yarsi Jakarta. Tentu kajian tentang Ke-Muhammadiyah-an yang selalu ketika pendiri RS tersebut meninggal, dia diundang pengajian yang jamaahnya sebagian besar ibu-ibu tersebut, ternyata ada tahlilan juga. “Wah, saya telah gagal me-Muhammadiyah-kan jamaah pengajian ini.” Gumam Kang Jalal saat itu. Bingung, kaget, juga pengajian Yarsi itu, mayoritas adalah pendatang dari Jawa yang sudah terbiasa dengan tradisi tahlilan di daerah asalnya. Menurut Kang Jalal, mereka sudah tak berpikir lagi bahwa amalan tersebut sebagai perbuatan bid’ah, tetapi justru menjadi bagian dari kearifan lokal yang sudah turun-temurun dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah Jalal pun akhirnya “curhat” tentang kekecewaannya itu kepada Gus Dur. Seperti biasa, Presiden ke-4 RI itu hanya tertawa. Bukannya mengajak kembali ke NU, tapi justru merekomendasikan putra Kang Jalal untuk belajar Syiah ke Iran, ketika dia meminta rekomendasi Gus Dur—yang saat itu sebagai Ketua Umum PBNU—untuk beasiswa putranya cukup disitu, Gus Dur bahkan juga mengantar Kang Jalal dan putranya ke Iran, menitipkan langsung kepada ulama Syiah di menarik adalah cerita tentang obrolan Kang Jalal dengan Gus Dur, dalam perjalanan pulang dari Iran.“Gus, kenapa anak saya harus belajar ke Iran?”“Gini Kang, sampean kan kecewa menjadi mubaligh Muhammadiyah yang gak direken jamaah yang sudah puluhan tahun sampean bina. Mending sampean belajar Islam Syiah saja.”Iklan “Kenapa gak diajak ke NU saja, Gus?”“Di NU itu sudah banyak kiai yang alim dan pinter kitab kuning. Sampean nanti paling cuma jadi santri, jadi jamaah mereka. Tapi kalau di Syiah, sampean pasti jadi tokoh.”Kang Jalal kaget. Gus Dur hanya terkekeh. Akhirnya, mereka pun tertawa Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia IJABI Jalaluddin Rakhmat kanan didampingi Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Muhsin Daud Poliraja kiri memberikan keterangan terkait dengan penyerangan pesantren Syiah di sampang beberapa waktu lalu, Jakarta, Sabtu, 31 Desember 2011. ANTARA/M Agung RajasaSejak itulah, Kang Jalal sering diundang ke Iran, mengikuti kegiatan dan pertemuan internasional di negeri Persia tersebut. Kemudian, dia pun menjadi tokoh utama Syiah Indonesia, dengan mendirikan IJABI Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia.Kang Jalal tak memungkiri, itu semua adalah “berkah” Gus Dur, yang telah membuka jalan ke Iran. “Jadi, kenapa saya Syiah? Gus Dur lah yang harus bertanggungjawab, karena saya di-Syiah-kan oleh Gus Dur.” Demikian PersaudaraanSaya tak tahu pasti kebenaran cerita tersebut. Tapi saya meyakini bahwa hal itu benar adanya. Karena bagaimanapun, tokoh-tokoh yang kita kagumi itu adalah pribadi yang jujur dan terbuka. Kalau demikian, menurut saya, betapapun hebatnya Kang Jalal sebagai tokoh Syiah selama ini, dia ternyata masih menyandarkan kepada Gus saya, itu sah-sah saja. Gus Dur adalah tokoh besar. Terlebih saat itu, sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Dur memang harus mengayomi “umat”, dari mana pun asalnya. Sebagai seorang pluralis, Gus Dur harus pula membuka jalan “kebenaran” untuk siapa saja yang mau dengan tulus dan konsiten muslim dan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia IJABI, Jalaludin Rakhmat berpose dengan sampul buku karyanya berjudul “Life After Death - The Ultimate Journey” yang diluncurkan 29 Agustus 2012. TEMPO/Praga UtamaBegitu pula Kang Jalal. Dengan kejujurannya itu, dapat dipastikan, dia bukanlah penganut Syiah yang eksklusif. Dia bukanlah bagian dari penganut “paham yang salah”, yang hanya suka dan terbiasa menyalahkan mereka yang tidak se'alim Kang Jalal, tentulah juga sangat memahami NU. Terlebih, dia memang lahir dan dibesarkan di lingkungan nahdliyin. Saya yakin, kapasitas ke-NU-annya tak sekadar formal dan ritual, apalagi simbolik semata. Kang Jalal adalah pecinta ilmu, pembaca yang sempurna, tentu dapat dipastikan dia sangat memahami Khittah dan prinsip ajaran Hadlratus-Syaikh KH Hasyim Asy'ari paling fundamental di antara ajaran Bapak pendiri NU itu, sebagaimana termaktub dalam Qanun Asasi 1926, adalah“Persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu menangani satu perkara dan se-iya sekata, merupakan penyebab kebahagiaan yang terpenting dan menjadi faktor paling kuat untuk menciptakan persaudaraan dan kasih sayang.”Dalam konteks itulah, saya juga memahami pemikiran Kang Jalal selama ini. Berikut sikap, tindakan, dan laku hidupnya. Terutama yang berkaitan dengan komitmen dalam mewujudkan persaudaraan sesama, dengan landasan cinta yang senantiasa digelorakannya. Baik cinta sesama muslim, sesama warga bangsa, maupun sesama umat manusia. Dalam hal ini, dia sering mengutip salah satu pesan utama Imam Ali bin Abi Thalib “Manusia itu ada dua golongan, yaitu golongan yang bersaudara dalam satu agama, dan golongan yang bersaudara sesama ciptaan Tuhan.”Inti ajaran itulah yang melandasi gerakan Kang Jalal. Yakni, cinta persaudaraan. Tak hanya berhenti di situ, dia telah berikhtiar nyata selama ini, mewujudkan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang. Karena di sinilah sejatinya esensi dari prinsip ajaran Islam rahmatan lil amin.

Selainitu, ada pandangan yang unik dari Gus Dur mengenai Negara Islam yang sangat berbeda dengan pandangan banyak tokoh lainnya. Beliau menganggap bahwa pembentukan Negara Islam merupakan sebuah proses dari sekulerisasi Islam. Dalam salah satu tulisannya beliau berkata, “Pada hakikatnya jika nilai-nilai luhur yang dibawakan Islam harus

Ustadz Idrus Ramli, dalam sebuah video ketika ditanya seorang jamaah di majelis, menyinggung Habib Quraish Shihab sebagai tokoh yang tidak layak disebut sebagai pakar tafsir. Menurut informasi yang beliau terima, tim Habib Quraish inilah yang menyusun tafsir Al-Misbah?. Dan tim ini jumlahnya banyak!Tak hanya meragukan kepakaran Habib Quraish, beliau pun menyinggung bagaimana anak-anak Habib Quraish yang “tidak taat” pada agama, dan dari sana pola pikir Habib Quraish mengarah pada ketidakwajiban jilbab–seperti yang ditunjukkan Najwa di keluarga Habib Quraish yang condong kepada Syiah, sehingga Ustaz Idrus menilai Habib Quraish ini condong pula pada demikian?“Mungkin dapat duit dari Syiah. Syiah, kan, banyak duitnya.” kata Ustaz Idrus kalau uangnya Syiah itu banyak, kenapa kasus-kasus persekusi yang dialami warga Syiah di Indonesia tidak kunjung selesai? Bahkan masih ada yang terlantar, tidak mendapat kejelasan bisa pulang ke rumah atau tidak?Dari sekian banyak masjid di Indonesia, berapa banyak masjid Syiah? Apakah semudah orang Sunni mendirikan masjid?Tidak hanya orang Kristen yang susah mendirikan gereja karena alasan IMB, lho. Tapi Syiah juga selain Najwa Shihab, putri Habib Quraish ada Najeela Shihab dan Nahla Shihab yang berjilbab. Istrinya, Hubabah Fatmawati Asegaf pun Najwa Shihab, hanya adiknya yang bernama Ahmad Syihab tidak dia, kan rejal laki-laki.Lantas, bagaimana Ustaz Idrus menilai kedua anak perempuan Habib Quraish dan istri beliau yang berjilbab semua? Apa karena Najwa Shihab tidak berjilbab–demikian juga Ahmad Syihab, lantas beliau bisa menilai bagaimana ijtihad Habib Quraish sekonyong-koyong begitu?!Ketiga, memang ada keluarga Shihab yang Syiah di Sulawesi Selatan, tempat kelahiran Habib Quraish. Warga Sulsel juga ada yang Syiah. Tapi memang tidak bisa disensus jumlahnya boleh Anda cek, bagaimana Syiah begitu mendapatkan diskriminasi di benar uang Syiah itu banyak, tapi lihatlah sampai sekarang penolakan dan diskriminasi yang diterima Syiah di Sulses dan provinsi lain juga tak kalah banyak. Dan, mereka Syiah lebih sering kalah daripada memenangi penolakan & mungkin mazhab Islam yang menurut Ustadz Idrus sangat kaya sehingga mampu menyuap, bisa seketeteran ini menyejahterakan umatnya yang mendapat perlakuan buruk?!Keempat, kalau Habib Quraish dapat duit dari Syiah, sudah berapa orang yang jadi Syiah karena Habib Quraish? Atau, sudah berapa orang yang pindah mazhab Syiah karena Habib Quraish? Siapa yang tiba-tiba mengganti “Al-khalifatul Awwal Abu Bakr Al-Shiddiq” dengan “Ya Hasan, Ya Husain!!!”?Tapi sebelum ke sana, isu “misionaris Syiah” yang mendapat aliran dana dari Iran sudah ada sejak dulu. Bahkan Gus Dur pun pernah diterpa isu yang sama. Hanyasaja, sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikan kecuali desas-desus yang tidak bisa dikonfirmasi baiknya pembuktian dihadirkan terlebih dahulu sebelum ada vonis, kan?!Menginsinuasi seseorang dengan kedok kalimat ambigu “mungkin beliau mendapat uang dari Syiah” adalah vonis juga. Mau pakai kedok “mungkin” ini, kan, kepengecutan, kan?!Maunya menuduh, tapi pingin saya sudah baca buku Habib Quraish tentang Syiah, begitupun radd santri Sidogiri tentang buku itu. Saya menangkap kedua buku ini sangat bagus untuk membangun literatur turats. Bisa kapan lagi ada diskursus sespesifik ini, kan?Yang menjadi keberatan saya hanya satu buku dari Sidogiri terlalu bias. Bahkan bias sejak bab pertama. Bagi orang yang sudah berkesimpulan “Syiah sesat dan tidak mungkin bergandengan tangan dengan Sunni”, tentu saja mencari-mencari alasan untuk sampai pada kesimpulan itu. Bias seperti ini tidaklah baik untuk tentu saja tidak merasakan bagaimana ulama Timur-Tengah sampai mati-matian membikin perdamaian antara Sunni-Syiah pasca keributan di Suriah, Libya, Afganistan, dan yang tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya peperangan, tentu saja tidak bisa mengerti bagaimana susahnya mencari perdamaian. Dan di buku tersebut saya tidak menemukan ruh yang saya tidak mengenal Habib Quraish secara personal, namun saya mengenal Gus Ghofur Maimoen Azhari dan Gus Baha Nursalim guru undangan di pondok Habib Quraish. Saya mencukupkan testimoni Gus Ghofur Maimoen dan Gus Baha dalam menyebutkan kepakaran Habib kedua nama besar itu tidak lebih dipercaya daripada informan Ustadz Idrus Ramli, ya, saya tidak bisa memaksa. Kecuali Ustadz Idrus membuktikannya sendiri, saya ya di video itu nampak sekali kalau Ustadz Idrus hanya dapat informasi yang konon dari timnya Habib Quraish. Siapa informan itu? Wallahu a’lam!Ketujuh, seminggu ini di linimasa Twitter lagi marak insinuasi Syiah, setelah dua tahun lebih tidak ada apa-apa. Dimulai dari Husein Ja’far Alhadar, kemudian merembet ke Habib hal yang muncul secara tiba-tiba, saya tentu berhak curiga“Kenapa isu Syiah kembali muncul setelah mati suri dua tahun sebelumnya? Ada apa?!”Kedelapan, lebaran sebentar lagi. Tapi kabar sarung BHS belum ada sampai ke rumah saya, nih. Kawan-kawan yang jadi DPRD di Tamansari dan lainnya pada ke mana, sih?
Alimendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Bagaimana Menag yg sekarang ini si gus yakut itu dia anak buah gus dur yg membela syiah dan ahmadiyah yg jelas2 menyesatkan umat islam di indonesia, dhulu gus dur ingin ada hub bilateral dng israel skrng anak buahnya jd
Prof Quraish Shihab memberikan kesaksian atas Gus Dur. Bagaimana sosok Gus Dur di mata ahli tafsir Quran tersebut? Dinasihatkan oleh Rasulullah SAW, kita berkumpul di suatu majelis yang oleh agama dinamai majelis dzikir. Tidak kurang dari 200 kali, kata-kata dzikir terulang di dalam Al-Quran. Objeknya bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah berdzikir, merenung, mengingat, menyebut-nyebut tokoh-tokoh, lebih lebih yang memiliki jasa di dalam masyarakat. Rasulullah SAW pun memerintahkan kita dengan sabdanya Udzkuru mahasina mautakum.. Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa-jasa, kebaikan-kebaikan orang-orang mati kamu. Karena itu kita perlu garis bawahi, acara kita ini, acara haul ini, adalah salah satu dari ajaran penting dalam agama Islam yang ditekankan oleh Al-Quran dan Sunnah. Kalau kita berbicara tentang Gus Dur, tidak mudah membicarakan tokoh ini, karena tidak mudah menemukan kunci kepribadian Almarhum. Bahkan bisa terkesan bahwa ada semacam kontradiksi dari sikap-sikap beliau. Beliau itu serius, tetapi suka bercanda. Dalam hal-hal serius, seringkali kita dengar Gus Dur berucap “Begitu aja kok repot”. Serius dan bercanda bertolak belakang, tetapi tidak harus dipertentangkan. Gus Dur seorang yang sangat rasional, tetapi dalam saat yang sama, beliau percaya supra-rasional, yang terkadang bagi orang-orang yang tidak mengerti, dinamai irasional. Bertolak belakang. Gus Dur almarhum seorang demokrat, senang bermusyawarah, tetapi dalam saat yang sama, bisa terkesan, karena kuatnya kepribadian beliau dan kuatnya cara-cara beliau untuk mempertahankan pendapatnya, terkesan bahwa dia otoriter. Gus Dur–Allahu yarham— seorang yang berpijak di bumi Indonesia, melihat jauh ke depan, tetapi dalam saat yang sama tidak pernah tidak menoleh ke belakang. Gus Dur bukan saja mengumandangkan dan mempraktekkan ungkapan yang dikenal oleh agamawan, dengan al-muhafadzhotu alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, tetapi Gus Dur lebih dari itu. Bukan hanya sekedar “memelihara yang baik dari masa lalu serta mengambil yang lebih baik dari masa kini,” beliau bukan sekadar mengambil tetapi mempersembahkan sesuatu yang orisinil baru dari Gus Dur. Karena, dalam dua tanda petik, pertentangan-pertentangan ini, maka sikap masyarakat terhadap Gus Dur juga berbeda. Ada yang sangat mengagumi Gus Dur, tapi ada juga yang tidak paham tentang Gus Dur itu mempersalahkan Gus Dur. Dalam pandangan agamawan dan ilmuwan, kalau Anda menemukan satu orang yang sikap masyarakat kontradiktif terhadapnya, maka ketahuilah bahwa yang bersangkutan adalah seorang yang genius. Dan karena itu, agama mengingatkan agar yang terlalu senang jangan melampaui batas dalam kesenangannya, dalam cintanya. Dan yang tidak senang jangan melampaui batas dalam kebenciannya. Rasul SAW bersabda, menyangkut Sayyidina Ali Karramallohu Wajhahu, ada yang sangat-sangat mengagungkan beliau, melebihi kedudukan beliau. Dan ada juga yang membenci beliau. Rasul SAW bersabda, ya Aliy, yahliku fika alrajulan. Ada dua kelompok manusia yang binasa menyangkut sikapnya terhadap engkau. Yang pertama terlalu cinta kepadamu, dia binasa karena terlalu cinta melebihi batas, dan yang kedua terlalu benci kepadamu. Kita ingin menempatkan Gus Dur pada tempatnya yang sebaik-baiknya. Kita tidak ingin terjadi kecintaan kita mengantar kita kepada syirik. Tapi dalam saat yang sama kita tidak ingin ketika kita tidak sependapat dengan beliau menuduh beliau dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Memang, kata para pakar, bisa jadi… bisa jadi.. Kalau menurut ukuran akal, itu mustahil, tetapi bila kita menggunakan hati, maka itu tidak mustahil. Seorang yang mencapai kedudukan akal yang sehat, tidak mungkin baginya memadukan dua hal yang bertolak belakang. Tetapi seorang yang mencapai puncak akal dan puncak kesucian jiwa, dia dapat mencapai dan menggabung dua hal yang bertolak belakang. Itu sebabnya, sejak dulu ada filosof-filosof yang berkata sebenarnya bisa jadi ada orang yang berjalan di sungai, tapi dalam saat yang sama dia berhenti. Alquran menyatakan Wama romaita idz romaita walakinnalloha roma..” Bukan engkau yang melempar pada saat engkau melempar, tapi Allah yang melempar.” Dua hal yang bertolak belakang. Karena itu ketika kita menemukan dalam ide-ide dalam pemikiran-pemikiran Gus Dur, paham pluralisme sebenarnya itu lahir dari pandangan akal yang digabung dengan pandangan hati yang suci. Itu sebabnya sufi-sufi besar, yang sebahagian mereka disalahpahami pendapat-pendapatnya itu berdendang, ada yang berkata “Sekali engkau melihat saya beribadah kepada Tuhan di masjid, dan di kali lain engkau melihat saya di gereja. Sekali engkau saya puja, dan di kali lain, engkau memuja saya. Sekali aku menyembah kepadamu, dan di kali lain engkau menyembahku.” itu kata Ibnu Al Arabi. Hal yang bertentangan, tetapi sebenarnya bagi yang paham itu tidak harus dipertentangkan. Gus Dur dengan paham pluralismenya ada yang salah paham. Padahal kalau kita merujuk pada Al-Quran, kita merujuk pada Sunnah Nabi saw kita menemukan itu sangat sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi. Kalau kita baca surat perjanjian Nabi kepada kelompok Kristen Najran, boleh jadi ada orang yang tidak percaya itu. Saudara tahu, antara lain dikatakan di sana, ”Bahwa umat Islam harus membantu umat Kristen kapan dan di mana pun, sehingga jika mereka membutuhkan dana untuk membangun gereja-gereja mereka, hendaklah dia dibantu bukan sebagai hutang, tetapi sebagai bantuan yang tulus.” Itu perjanjian Nabi. Yang semacam itu yang dipahami oleh Gus Dur. Bagi orang yang tidak paham sejarah, dia katakan, oh ini melanggar. Karena itu sangat wajar jika kita kembali kepada pikiran-pikiran Gus Dur. Sangat wajar apabila kita teruskan pikiran-pikiran beliau, apalagi dewasa ini. Gus Dur berpijak masa kini, tetapi menoleh ke belakang. Sekaligus memandang jauh ke depan. Terkadang pikiran-pikiran beliau melampaui masanya, sehingga nanti setelah beliau pergi, masa berubah, baru orang sadar, oh itu dulu Gus Dur benar ketika itu. Di situlah Gus Dur bagaikan mendendangkan syair yang menyatakan Sayadzkuruni qaumi idza jadda jidduhum wafil lailati dzulma’i yuftaqadul badru Umatku/kaumku akan mengingat-ingat saya pada saat krisis mereka, dan memang purnama dicari-cari waktu gelapnya malam. Allah yarham Gus Dur. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang sebaik-baiknya ” Wassalaamu ’alaikum warahmatulloh wabarakatuh. Post Scriptum Pidato ini disampaikan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab saat 1000 Hari Wafatnya Gus Dur tahun 2012 di Ciganjur. TentangSantri; Profil Aswaja Center; Donasi; Tanya . PISS-KTB; Konsultasi Fiqih; Melalui SMS; Live Syi’ir Gus Dur; Syi’ir Gus Dur. Posted on Agustus 4, 2011 by PISS-KTB — Posting Oleh : Mbah Jenggot (Admin) Ngawiti ingsun nglaras syi’iran (aku memulai menembangkan syi’ir) Kelawan muji maring Pengeran (dengan memuji kepada Tuhan) Pasuruan ANTARA News - Ratusan umat Islam Syiah melaksanakan tahlil khusus untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam YAPI Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu. Pengajar Pesantren YAPI, Ustadz Segaf Assegaf menjelaskan, tahlil khusus tersebut untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralis yang tidak membeda-bedakan kelompok. Dia menyebutkan, meski Gus Dur tidak pernah mendatangi Pesantren YAPi di Bangil, umat islam Syiah merasa telah dibelanya. Ustadz Segaf mengatakan, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Alquran berbeda dari umat Islam lainnya, Gus Durlah yang melakukan klarifikasi bahwa Alquran umat Syiah sama dengan Alquran umat Islam lainnya. Ustadz Segaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini hanya keniscayaan semata. Ia menjelaskan, umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan, tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kepala YAPI Bangil, Ustadz Abdul Mukmin menjelaskan, Yayasan Pesantrean Islam YAPI Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil sekitar tahun 1974. YAPI Bangil sebelumnya berada di Bondowoso. Namun pada tahun 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji, untuk santri putranya. Sedangkan santri putrinya masih berada di Kota Bangil. Jumlah santri YAPI sebanyak 315 santri putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Sementara YAPI hanya ada di Bangil, tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah khusus agama Islam. *Pewarta Editor Jafar M Sidik COPYRIGHT © ANTARA 2010
Darisegi arti, syiir Gus Dur ini memiliki makna yang luas tentang kehidupan sehari-hari. Termasuk berkaitan tentang pembelajaran hidup agar tidak terlena oleh gemerlapnya persoalan dunia yang hanya sesaat. Selain itu, syiir ini mengandung pesan tentang larangan merendahkan orang lain supaya kelak tidak tersesat di akhirat.
Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan..Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara. Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-ZabidiAdapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu HazmSyiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahana, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para itu mereka terbagi menjadi tiga yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ketika mengetahui sekte ini Ali membakar mereka dan membuat parit-parit di depan pintu masjid Bani Kandah untuk membakar mereka. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq Syiah yang menuhankan Ali. Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah dibakar, akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabdaمن بدل دينه فاقتلوه“Barangsiapa yang mengganti agamanya murtad maka bunuhlah ia“Golongan Sabbah pencela. Ali mendengar tentang Abu Sauda Abdullah bin Saba’ bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diriGolongan Mufadhdhilah, yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر“Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”. Riwayat semacam ini dibawakan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Muhammad bin Hanafiyyah bahwa ia bertanya kepada ayahnya, siapakah manusa terbaik setelah Rasulullah, ia menjawab Abu Bakar, kemudian siapa? dijawabnya, sejarah syiah mereka terpecah menjadi lima sekte yang utama yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah rafidhah, Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Dari kelima sekte tersebut lahir sekian banyak cabang-cabang sekte lima sekte tersebut yang paling penting untuk diangkat adalah sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran yang menggulingkan rezim Syah Reza menurut bahasa arab bermakna meninggalkan, sedangkah dalam terminologi syariat bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar.” ash-Sharimul Maslul Ala Syatimir Rasul hlm. 567, Syaikhul Islam Ibnu TaimiyahSebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. Badzlul Majhud, 1/86Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari berkata, “Tatkala Zaid bin Ali muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka para pengikutnya meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan kepada merekaرَفَضْتُمُوْنِي؟“Kalian tinggalkan aku?”Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” Maqalatul Islamiyyin, 1/137. Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 13/36.Pencetus paham syiah ini adalah seorang yahudi dari negeri Yaman Shan’a yang bernama Abdullah bin saba’ al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan bahwa kepemimpinan imamah sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam menurut persangkaan mereka.Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam khalifah dan ia adalah seorang yang ma’shum terjaga dari segala dosa.Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka melarikan bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk giat beribadah, ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat bahkan kufur yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah Utsman bin Affan. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil Izz hlm. 490, dan Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah, sekte syiah yang paling ringan kesalahannya.[Disusun dari dari berbagai sumber, di antaranya kitab Al-Furqon Bainal Haq Wal Batil tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, judul bahasa indonesia “Membedah Firqoh Sesat” penerbit Al-Qowam]Daftar Isi Lanjut ke Bab 2—Penyusun Satria Buana Artikel weXHUt.
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/691
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/903
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/526
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/517
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/418
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/934
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/768
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/591
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/36
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/116
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/4
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/857
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/352
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/526
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/374
  • gus dur tentang syiah