B Mengasihi dan menyayangi manusia C. Ikhlas dalam bekerja dan berbuat apapun D. Segera bertaubat apabila berbuat kesalahan E. Menjalankan perintahnya walau sebagian. Jawaban: E. Soal No. 22). Kumpulan nama nama Allah Swt yang indah disebut dengan Asmaul Husna, yang hendaknya diterapkan oleh orang beriman kepadanya dalam kehidupan sehari hari. Ilustrasi ciri-ciri orang yang ikhlas dalam berbuat menurut Islam, sumber foto Jem Sahagun on UnsplashIkhlas merupakan salah satu sifat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan sangat dianjurkan untuk dimiliki setiap umat muslim. Namun tdak mudah untuk memiliki sifat ikhlas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu jika seseorang bisa menerapkan sifat ikhlas dalam berbuat maka Allah SWT akan memberikan ganjaran tersendiri bagi umatnya. Lalu bagaimana ciri-ciri orang yang ikhlas dalam berbuat menurut Islam? Berikut adalah penjelasannya secara Orang yang Ikhlas dalam Berbuat Menurut IslamKita mulai pembahasannya dari pengertian ikhlas terlebih dahulu, di mana ikhlas bisa diartikan sebagai Membersihkan jernih, bersih, suci dari pencemaran, suci dari campuran, baik itu berupa materi maupun tidak. Selain itu, ikhlas juga bisa diartikan secara istilah, dimana artinya adalah membersihkan hati agar menuju kepada Allah SWT saja. Dengan kata lain, dalam melakukan ibadah, hati kita tidak boleh menuju kepada selain Allah IkhlasIlustrasi ciri-ciri orang yang ikhlas dalam berbuat menurut Islam, sumber foto Jon Tyson on UnsplashDikutip dari buku Ikhlas Tanpa Batas karya 10 Ulama Psikologi Klasik, 2016 dijelaskan bahwa ciri-ciri ikhlas dalam berbuat menurut ajaran Islam adalah sebagai suka dipuji karena pujian merupakan salah satu ujian bagi orang-orang yang suka beramal saleh. Dalam ajaran Islam pujian bisa membuat seorang muslim terkena penyakit ujub atau kritik dan saran dari orang lain adalah ciri-ciri orang ikhlas yang kedua dimana orang yang bisa bersifat ikhlas akan mendengarkan kritik dan saran dari orang lain sebagai masukan dan bahan introspeksi diri untuk lebih baik amal kebaikan yang telah dilakukan adalah ciri dari orang ikhlas selanjutnya. Saat seseorang melakukan amal kebaikan seperti halnya menolong orang lain, biasanya seorang yang ikhlas akan lupa dan tidak akan pernah mengingatnya lagi. Dengan begitu, orang yang ikhlas tidak dengan mudah berbicara atau mengungkit kebaikan yang telah dilakukan bahagia jika saudaranya memiliki kelebihan bukan sebaliknya, karena orang yang ikhlas akan bergembira jika saudaranya sesama muslim memiliki kelebihan yang tidak dia miliki bukan malah iri adalah pembahasan terkait dengan ciri-ciri orang yang ikhlas dalam berbuat menurut ajaran Islam. WWN Katakunci: tolong menolong, perspektif Islam, kesadaran, perbuatan. A. PENDAHULUAN Tolong menolong sesama manu-sia merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Setiap manusia bebas dalam hal memilih mata pencarian yang dikehendaki dan akan memperoleh ba-gian atas usahanya. Seseorang tidak akan mendapatkan lebih daripada apa Secara harfiyah, ikhlas artinya tulus dan bersih. Adapun menurut istilah, ikhlas ialah mengerjakan sesuatu kebaikan dengan semata-mata mengharap rida Allah SWT. Bagi orang yang ikhlas, suatu perbuatan baik tidak harus dikaitkan dengan imbalan atau balasan, melainkan semata-mata ingin mendapatkan rida Allah SWT. Jadi meskipun tidak mendapat imbalan apa pun dan dari pihak mana pun, akan tetap melakukan perbuatan baiknya tersebut. Ciri-ciri sifat ikhlas dalam jiwa seseorang dapat tampak dari sikap perilakunya sehari-hari. Gejala-gejala seseorang dapat dilihat secara kasat mata, diantaranya pada hal-hal berikut ini a. Tidak mengharapkan imbalan apa pun dari manusia, selain rido Allah SWT. semata. b. Tidak merasa terpaksa atau terbebanni dalam emlakukan suatu pekerjaan. c. Tidak atas dasar perintah atau tugas dan kewajiban dari pihak lain. d. Mengerjakannya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. e. Tidak karena ingin dipuji atau disanjung oleh pihak lain. f. Melakukannya dengan penuh pengabdian. Dalil aqli dan naqli tentang ikhlas. Ikhlas adalah sikap perbuatan terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Orang yang memiliki sikap perilaku ikhlas, tidak akan pernah merasa berat dalam menjalankan setiap tugas dan pekerjaan. Sebab sikap jiwa ikhlas dapat meringankan beban dan perasaan berat dalam mengerjakan suatu perbuatan. Suatu perbuatan yang dilakukan tanpa keikhlasan, tidak akan mendatangkan kebaikan, baik bagi pelakunya maupun bagi pihak lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Oleh sebab itu, Allah SWT. menyeru kita untuk selalu ikhlas dalam beramal, khususnya dalam beribadat kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya Artinya; "Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab Al Quran dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." Az-Zumar 2-3 Klasifikasi Nilai-nilai Ikhlas. Ikhlas dan tulus atas apa yang dilakukan dan diucapkan merupakan sikap terpuji, dan mengandung nilai-nilai yang sangat luhur dan mulia. Nilai-nilai luhur berakhlak ikhlas dapat diklasifikasikan sebagai berikut a. Tidak berharap imbalan apa pun kecuali rido Allah semata. b. Mengerjakan sesuatu atas kesadaran sendiri, tidak karena adanya paksaan atau tekanan dari pihak lain. c. Mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, tanpa ada rasa sungkan dan malas apalagi merendahkan ata spekerjaannya tersebut. d. Tidak girang ketika dipuji, dan tidak benci ketika dicela dan dicaci e. Bersedia menerima masukan, saran dan kritik dari orang atau pihak lain dengan senang hati. Sikap dan Perilaku Ikhlas. Ikhlas artinya bersih dan tulus dalam melakukan sesuatu, tanpa adanya harapan untuk mendapatkan imbalan dan balasan dari apa yang dikerjakannya itu, selain mengharapkan ridla Allah SWT. semata. Ikhlas atau tidaknya seseorang dalam melakukan suatu perbuatan sangat tergantung pada niatnya, sedangkan niat itu tempatnya didalam hati, sehingga keikhlasan seseorang sukar untuk diketahui. Namun demikian, dapat dilihat dari sikap perilakunya yang tampak. Orang yang ikhlas dalam beramal dan berbuat sesuatu, tidak akan merasa terbebani atau terpaksa atas perbuatannya tersebut, melainkan ia merasa senang dan gembira telah dapat beramal atau berbuat demikian. Firman Allah SWT. dalam Al-Insan ayat 8-9 yaitu Artinya "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih." Al-Insan 8-9 Terbiasa Berakhlak Terpuji ikhlas Bersikap perilaku ikhlas merupakan suatu perbuatan terpuji yang harus dipegang teguh oleh setiap muslim. Oleh sebab itu, hendaknya kita mulai membiasakan diri berakhlak ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan. Dalam upaya membiasakan diri berakhlak ikhlas, ada baiknya diperhatikan bebrapa hal berikut ini a. Tanamkan kesadaran dalam hati bahwa apa yang kita miliki hanya titipan Allah. b. Luruskan niat pada setiap melakukan suatu amal perbuatan, semata-mata hanya ingin mendapatkan rida Allah SWT. c. Dalam beramal jangan pilih kasih, melainkan semua orang harus dipandang sama. d. Lupakan setiap amal kebaikan yang telah dilakukan, agar tidak memiliki rasa angkuh dan sombong. e. Berdoalah kepada Allah SWT. agar diberi kekuatan dalam berakhlak ikhlas. Baca Juga -Rahasia Surat Al-Ikhlas yang Tidak Ada Kata Ikhlas Didalam Ayatnya
Namun dalam konteks penggunaan dan pengamalan harian, apabila disebut "sukarelawan", iaboleh mewakili sukarelawan lelaki dan juga sukarelawan perempuan. Manakala sukarelawan Islam pula ialah sukarelawan muslim yang melakukan kerja-kerja kesukarelawan dengan ikhlas kerana Allah SWT, menjaga sahsiah Islam, memelihara batas-
loading...Selalu memohon perlindungan kepada Allah Taala, dan intalah selalu kepada-Nya agar Dia memberikan keikhlasan kepada kita. Foto ilustrasi/ist Ikhlas merupakan amalan hati yang perlu mendapatkan perhatian khusus secara mendalam dan dilakukan secara terus-menerus. Baik ketika hendak beramal , sedang beramal, maupun ketika sudah beramal. Hal ini dilakukan agar amalan yang dilakukan bernilai di hadapan Allah. Baca Juga Nah, di bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat tepat untuk kita terus belajar, termasuk belajar tentang cara ikhlas beramal ini. Dinukil dari buku 'Khutuwaat ilas Sa’adah' karya Dr. Abdul Muhsin Al Qasim Imam dan Khatib Masjid Nabawi yang telah diterjemahkan, dijelaskan tentang beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang bisa berlaku ikhlas dalam beramal, berikut di antaranya1. Selalu berdoaSelalu memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala, Dialah yang membolak-balikkan hati manusia. Zat yang ditangan-Nya-lah hidayah berada, tampakkanlah hajat dan kefakiran kepada-Nya. Mintalah selalu kepada-Nya agar Dia memberikan keikhlasan kepadamu. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu selalu memanjatkan doa ini; اللهم اجعل عملي كلها صالحا, واجعله لوجهك خالصا, و لا تجعل لأحد فيه شيئا“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun.” Baca Juga 2. Sembunyikan amalBisyr ibnul Harits mengatakan, “Janganlah engkau beramal untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan."Jadi, amal yang tersembunyi -dengan syarat memang amal tersebut patut disembunyikan-, lebih layak diterima di sisi-Nya dan hal tersebut merupakan indikasi kuat bahwa amal tersebut dikerjakan dengan ikhlas. 3. Selalu melihat amal orang-orang shaleh panutan Perhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shaleh terdahulu sebagai panutan kita. Allah ta’ala berfirman,أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ ٩٠“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan Al-Quran. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” QS Al An’am 90. Baca Juga Bila perlu, baca buku-buku biografi para ulama, ahli ibadah, dan zuhhad orang yang zuhud, karena hal itu lebih mampu untuk menambah keimanan di dalam Menganggap remeh amalPenyakit yang sering melanda hamba adalah ridha puas dengan dirinya. Setiap orang yang memandang dirinya sendiri dengan pandangan ridha, maka hal itu akan membinasakannya. Setiap orang yang ujub akan amal yang telah dikerjakannya, maka keikhlasan sangat sedikit menyertai amalannya, atau bahkan tidak ada sama sekali keikhlasan dalam amalnya, dan bisa jadi amal shalih yang telah dikerjakan tidak bin Jubair mengatakan, “Seorang bisa masuk surga berkat dosanya dan seorang bisa masuk neraka berkat kebaikannya. Maka ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Sa’id menjawab, “Pria tadi mengerjakan kemaksiatan namun dirinya senantiasa takut akan siksa Allah atas dosa yang telah dikerjakannya, sehingga tatkala bertemu Allah, Dia mengampuninya dikarenakan rasa takutnya kepada Allah. Pria yang lain mengerjakan suatu kebaikan, namun dia senantiasa ujub bangga dengan amalnya tersebut, sehingga tatkala bertemu Allah, dia pun dimasukkan ke dalam neraka Allah.”
1 menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila. 2. menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat 3. menepati Dasadarma. 4. Dharma Dharma adalah : • Alat proses pendidikan sendiri yang progresif untuk mengembangkan budi pekerti luhur.
QUESTIONMenolong seseorang harus dilakukan dengan ikhlas tanpa ...*⇒ANSWER and EXSPLATIONTanpa mengaharap imbalan/mengharap pujian dari orang lain *tidak mengharapkan hal" dunia. Jika tidak ikhlas maka sia-sia amal shalehnya. Dikarenakan tidak mengaharap ridho Allah adalah melakukan amal shaleh dengan hanya mengharapkan ridho Allah, dan tidak mengharapkan imbalan/pujian orang"/dll. vSyarat diterimanya ibadah ada duaIkhlasMengikuti aturan Rasul SAW atau yang biasa di sebut ittiba'SPISBASGAPeaceAll
9 Kumpulan nama-nama Allah Swt yang indah disebut dengan Asma'ul Husna, yang hendak diterapkan oleh orang beriman kepada-Nya dalam kehidupan keseharian. Contoh pernyataan di bawah ini yang bukan penerapan dari sifat Al-Karim adalah.. a. Menanamkan sifat mulia dalam pergaulan b. Menumbuhkan cinta yang dalam kepada Allah Swt.
I K H L A SOleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه اللهعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْDari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.TAKHRIJ HADITS Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh 1. Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 33. 2. Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhud, bab Al Qana’ah, no. 4143. 3. Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539. 4. Baihaqi dalam kitab Al Asma’ Wa Shifat, II/ 233-234, bab Ma Ja’a Fin Nadhar. 5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, IV/103 no. IKHLAS Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada Izz bin Abdis Salam berkata “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.Al Harawi mengatakan “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.Abu Utsman berkata “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq Allah”.Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”.Abu Ali Fudhail bin Iyadh berkata “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”[1]Ikhlas ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena mencari harta rampasan perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang, karena syahwat, kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu; maka semua ini merupakan noda yang mengotori niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah, apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan mencapai tempat MEWUJUDKAN IKHLAS Mewujudkan ikhlas bukan pekerjaan yang mudah seperti anggapan orang jahil. Para ulama yang telah meniti jalan kepada Allah telah menegaskan sulitnya ikhlas dan beratnya mewujudkan ikhlas di dalam hati, kecuali orang yang memang dimudahkan Sufyan Ats Tsauri berkata,”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku”[2]Karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdo’aيَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَYa, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada seorang sahabat berkata,”Ya Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa kepada kami?” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Ya, karena sesungguhnya seluruh hati manusia di antara dua jari tangan Allah, dan Allah membolak-balikan hati sekehendakNya. [HR Ahmad, VI/302; Hakim, I/525; Tirmidzi, no. 3522, lihat Shahih At Tirmidzi, III/171 no. 2792; Shahih Jami’ush Shagir, dan Zhilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah, no. 225 dari sahabat Anas].Yahya bin Abi Katsir berkata,”Belajarlah niat, karena niat lebih penting daripada amal”[3]Muththarif bin Abdullah berkata,”Kebaikan hati tergantung kepada kebaikan amal, dan kebaikan amal bergantung kepada kebaikan niat”[4]Pernah ada orang bertanya kepada Suhail “ Apakah yang paling berat bagi nafsu manusia?” Ia menjawab,”Ikhlas, sebab nafsu tidak pernah memiliki bagian dari ikhlas”[5]Dikisahkan ada seorang alim yang selalu shalat di shaf paling depan. Suatu hari ia datang terlambat, maka ia mendapat shalat di shaf kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada para jama’ah lain yang melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya kesenangan dan ketenangan hatinya ketika shalat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya disebabkan karena ingin dilihat orang lain.[6]Yusuf bin Husain Ar Razi berkata,”Sesuatu yang paling sulit di dunia adalah ikhlas. Aku sudah bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, seolah-olah timbul riya, dengan warna lain.”[7]Ada pendapat lain, ikhlas sesaat saja merupakan keselamatan sepanjang masa, karena ikhlas sesuatu yang sangat mulia. Ada lagi yang berkata, barangsiapa melakukan ibadah sepanjang umurnya, lalu dari ibadah itu satu saat saja ikhlas karena Allah, maka ia akan ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq pertolongan dan kemudahan dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan. Merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللهِ مَالَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَاكَسَبُوا وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَDan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat … [Az Zumar/3947-48]قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًاKatakanlah”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi/18 103-104][8]Bila Anda melihat seseorang, yang menurut penglihatan Anda telah melakukan amalan Islam secara murni dan benar, bahkan boleh jadi dia juga beranggapan seperti itu. Tapi bila Anda tahu dan hanya Allah saja yang tahu, Anda mendapatkannya sebagai orang yang rakus terhadap dunia, dengan cara berkedok pakaian agama. Dia berbuat untuk dirinya sendiri agar dapat mengecoh orang lain, bahwa seakan-akan dia berbuat untuk lagi yang lain, yaitu beramal karena ingin disanjung, dipuji, ingin dikatakan sebagai orang yang baik, atau yang paling baik, atau terbetik dalam hatinya bahwa dia sajalah yang konsekwen terhadap Sunnah, sedangkan yang lainnya lagi yang belajar karena ingin lebih tinggi dari yang lain, supaya dapat penghormatan dan harta. Tujuannya ingin berbangga dengan para ulama, mengalahkan orang yang bodoh, atau agar orang lain berpaling kepadanya. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang itu dengan ancaman, bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahannam. Nasalullaha As Salamah wal Afiyah.[9]Membersihkan diri dari hawa nafsu yang tampak maupun yang tersembunyi, membersihkan niat dari berbagai noda, nafsu pribadi dan duniawi, juga tidak mudah. memerlukan usaha yang maksimal, selalu memperhatikan pintu-pintu masuk bagi setan ke dalam jiwa, membersihkan hati dari unsur riya’, kesombongan, gila kedudukan, pangkat, harta untuk pamer dan mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu menggoda, menghiasi dan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat jelek. Karena itu kita diperintahkan berlindung dari godaan setan. Allah يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌDan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-A’raf/7200].Jadi, solusi ikhlas ialah dengan mengenyahkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong kerakusan terhadap dunia, mengikis dorongan-dorongan nafsu dan bersungguh-sunguh beramal ikhlas karena Allah, akan mendorong seseorang melakukan ibadah karena taat kepada perintah Allah dan Rasul, ingin selamat di dunia-akhirat, dan mengharap ganjaran dari mewujudkan ikhlas bisa tercapai, bila kita mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan jejak Salafush Shalih dalam beramal dan taqarrub kepada Allah, selalu mendengar nasihat mereka, serta berupaya semaksimal mungkin dan bersungguh-sungguh mengekang dorongan nafsu, dan selalu berdo’a kepada Allah Ta’ BERAMAL YANG BERCAMPUR ANTARA IKHLAS DAN TUJUAN-TUJUAN LAIN Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin menjelaskan tentang seseorang yang beribadah kepada Allah, tetapi ada tujuan lain. Beliau membagi menjadi tiga Seseorang bermaksud untuk taqarrub kepada selain Allah dalam ibadahnya, dan untuk mendapat sanjungan dari orang lain. Perbuatan seperti membatalkan amalnya dan termasuk syirik, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Allah berfirmanأَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُAku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal mempersekutukanKu dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya. [HSR Muslim, no. 2985; Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah].Kedua Ibadahnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan duniawi, seperti ingin menjadi pemimpin, mendapatkan kedudukan dan harta, tanpa bermaksud untuk taqarrub kepada Allah. Amal seperti ini akan terhapus dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirmanمَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَBarangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. [Hud/1115-16].Perbedaan antara golongan kedua dan pertama ialah, jika golongan pertama bermaksud agar mendapat sanjungan dari ibadahnya kepada Allah; sedangkan golongan kedua tidak bermaksud agar dia disanjung sebagai ahli ibadah kepada Allah dan dia tidak ada kepentingan dengan sanjungan manusia karena Seseorang yang dalam ibadahnya bertujuan untuk taqarrub kepada Allah sekaligus untuk tujuan duniawi yang akan diperoleh. Misalnya Tatkala melakukan thaharah, disamping berniat ibadah kepada Allah, juga berniat untuk membersihkan dengan tujuan diet dan taqarrub kepada ibadah haji untuk melihat tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat pelaksaan ibadah haji dan melihat para jamaah ini dapat mengurangi balasan keikhlasan. Andaikata yang lebih banyak adalah niat ibadahnya, maka akan luput baginya ganjaran yang sempurna. Tetapi hal itu tidak menyeret pada dosa, seperti firman Allah tentang jama’ah haji disebutkan dalam KitabNya[10]لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْTidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia rezeki dari Rabb-mu……[Al Baqarah/2198].Namun, apabila yang lebih berat bukan niat untuk beribadah, maka ia tidak memperoleh ganjaran di akhirat, tetapi balasannya hanya diperoleh di dunia; bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya pada dosa. Sebab ia menjadikan ibadah yang mestinya karena Allah sebagai tujuan yang paling tinggi, ia jadikan sebagai sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya. Keadaan seperti itu difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَآ إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَDan di antara mereka ada yang mencelamu tentang pembagian zakat, jika mereka diberi sebagian darinya mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta mereka menjadi marah. [At-Taubah/958].Dalam Sunan Abu Dawud[11], dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ada seseorang bertanya “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ! Seseorang ingin berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ingin mendapatkan harta imbalan dunia?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,”Tidak ada pahala baginya,” orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Beliau Shallallahu alaihi wa salalm menjawab,”Tidak ada pahala baginya.”Di dalam Shahihain Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim, dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىمَا هَاجَرَ إِلَيْهِBarangsiapa hijrahnya diniatkan untuk dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat dia ada dua tujuan dalam takaran yang berimbang, niat ibadah karena Allah dan tujuan lainnya beratnya sama, maka dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama. Pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran ialah, bahwa orang tersebut tidak mendapatkan golongan ini dengan golongan sebelumnya, bahwa tujuan selain ibadah pada golongan sebelumnya merupakan pokok sasarannya, kehendaknya merupakan kehendak yang berasal dari amalnya, seakan-akan yang dituntut dari pekerjaannya hanyalah urusan dunia ditanyakan “bagaimana neraca untuk mengetahui tujuan orang yang termasuk dalam golongan ini, lebih banyak tujuan untuk ibadah atau selain ibadah?”Jawaban kami “Neracanya ialah, apabila ia tidak menaruh perhatian kecuali kepada ibadah saja, berhasil ia kerjakan atau tidak. Maka hal ini menunjukkan niatnya lebih besar tertuju untuk ibadah. Dan bila sebaliknya, ia tidak mendapat pahala”.Bagaimanapun juga niat merupakan perkara hati, yang urusannya amat besar dan penting. Seseorang, bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan dengan seorang ulama Salaf berkata “Tidak ada satu perjuangan yang paling berat atas diriku, melainkan upayaku untuk ikhlas. Kita memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan dalam niat dan dibereskan seluruh amal”[12].IKHLAS ADALAH SYARAT DITERIMANYA AMAL Di dalam Al Qur`an dan Sunnah banyak disebutkan perintah untuk berlaku ikhlas, kedudukan dan keutamaan ikhlas. Ada disebutkan wajibnya ikhlas kaitannya dengan kemurnian tauhid dan meluruskan aqidah, dan ada yang kaitannya dengan kemurnian amal dari berbagai pokok dari keutamaan ikhlas ialah, bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal. Sesungguhnya setiap amal harus mempunyai dua syarat yang tidak akan di terima di sisi Allah, kecuali dengan keduanya. Pertama. Niat dan ikhlas karena Allah. Kedua. Sesuai dengan Sunnah; yakni sesuai dengan KitabNya atau yang dijelaskan RasulNya dan sunnahnya. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak, sebagaimana hal ini ditunjukan dalam firmanNyaوَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًاBarangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb-nya. [Al Kahfi 110].Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selainNya[13]Al Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsir-nya [14] “Inilah dua landasan amalan yang diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ”.Dari Umamah, ia berkata Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata,”Bagaimanakah pendapatmu tentang seseorang yang berperang demi mencari upah dan sanjungan, apa yang diperolehnya?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Nabi Shallallahu alaihi wa salalm selalu menjawab, orang itu tidak mendapatkan apa-apa tidak mendapatkan ganjaran, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُSesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan dengan amal perbuatan itu mencari wajah Allah. [HR Nasa-i, VI/25 dan sanad-nya jayyid sebagaimana perkataan Imam Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib, I/26-27 no. 9. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib, I/106, Allah bersambung[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Imam An Nawawi I/16-17, Cet. Darul Fikr; Madarijus Salikin II/95-96, Cet. Darul Hadits Kairo; Al Ikhlas, oleh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hlm. 16-17, Cet. III, Darul Nafa-is, Tahun 1415 H; Al Ikhlas Wasy Syirkul Asghar, oleh Abdul Lathif, Cet. I, Darul Wathan, [2] .Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab I/17; Jami’ul Ulum Wal Hikam I/70. [3] Jami’ul Ulum Wal Hikam I/70. [4] Ibid.I/71. [5] Madarijus Salikin II/95. [6] Tazkiyatun Nufus, hlm. 15-17. [7] Madarijus Salikin II/96. [8] Tazkiyatun Nufus, hlm. 15-17. [9] Lihat hadits yang semakna dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib I/153-155; At Tarhib Min Ta’allumil Ilmi Lighairi Wajhillah Ta’ala, hadits no. 105-110; dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah [10] Ada beberapa amal lain yang mirip dengan contoh di atas, seperti • Menunaikan ibadah haji dan umrah, disamping bertujuan ibadah, juga untuk bertamasya tour. • Mendirikan shalat malam, tujuannya supaya lulus ujian, usahanya berhasil dan lainnya. • Berpuasa, agar tidak boros dan tidak disibukkan dengan urusan makan. • Menjenguk orang sakit, agar ia dijenguk pula bila ia sakit. • Mendatangi walimah nikah, agar yang mengundang datang bila diundang. • I’tikaf di masjid, supaya ringan biaya kontrak sewa tempat, atau untuk melepas kepenatan mengurus keluarga. Apapun yang mendorongnya, semua pekerjaan yang tujuannya taqarrub, akan menjadi berkurang nilainya dan bisa jadi terhapus. Wallahu a’lam. pen. [11] Sunan Abu Dawud, Kitabul Jihad, Bab Fi Man Yaghzu Yaltamisud Dunya, no. 2516. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 2196. [12] Majmu’ Fatawaa wa Rasa-il, I/98-100, Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Tartib Fahd bin Nashir bin Ibrahim As Sulaiman, Cet. II Darul Wathan Lin Nasyr, Th. 1413 H [13] Lihat At Tawassul Anwa’uhu Wa Ahkamuhu, Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. III, Darus Salafiyyah, [14] Tafsir Ibnu Katsir III/120-121, Cet. Maktabah Darus Salam
By Noraini Razak. -. 14 January 2022. SEGAMAT - Aktiviti kesukarelawanan dilihat boleh memupuk sifat ikhlas, ingin membantu masyarakat sekali gus semangat kerja berpasukan dalam diri seseorang pelajar terutama ketika membantu mangsa banjir. Pelajar Universiti Teknologi Mara (UiTM) Cawangan Johor Kampus Segamat, Mohammad Afiq Firdaus Md Hafez
Web server is down Error code 521 2023-06-15 223831 UTC What happened? The web server is not returning a connection. As a result, the web page is not displaying. What can I do? If you are a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you are the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not responding. Additional troubleshooting information. Cloudflare Ray ID 7d7e4dbfcde71c88 • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Denganungkapan lain adalah satunya pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam Catur Paramita, diantaranya: 1. Maitri yaitu sifat suka menolong orang lain yang dalam kesusahan dengan ikhlas 2. Karuna yaitu sifat kasih sayang dan cinta kepada sesama tanpa meminta balasan 3. Mudita yaitu sifat simpatik dan ramah tamah menghormati oang lain dengan
Secara bahasa, kata ikhlas berasal dari akar kata kh-l-sh yang artinya murni, tidak bercampur dengan yang lainnya. Laban khaalish dalam bahasa arab berarti susu murni yang tidak bercampur dengan apapun. Tidak bercampur dengan air, tidak bercampur dengan gula, tidak pula bercampur dengan yang lainnya. Dengan demikian ikhlas berarti memurnikan sesuatu. Adapun secara terminologis atau istilah menyebut bahwa ikhlas berarti mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah SWT, tidak karena yang lainnya. Hanya mengharap ridho Allah SWT, satu-satunya motivasi dari sikap ikhlas. Melalui dua perspektif tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa ikhlas adalah suatu sikap yang menjadikan niat hanya untuk Allah SWT dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT bukan kepada pujian dari manusia.
Menunjukkancinta kasih terhadap sesama manusia juga bisa diwujudkan dengan tolong menolong. Kita harus dengan senang hati menolong teman yang kesulitan. Tentu saja dalam keadaan seperti ini kita tidak boleh mengharapkan imbalan. Karena membantu dengan tulus ikhlas adalah lebih utama bagi kemanusiaan. Tidak menyakiti perasaan teman Alasan Menolong Orang Lain Harus Dilakukan dengan Ikhlas FotoUnsplashIkhlas adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Menolong orang lain harus dilakukan dengan ikhlas agar mendatangkan pahala. Simak 11 alasan lain yang perlu untuk diketahui berikut ini. Ikhlas memiliki arti bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu itu bersih. Arti ikhlas secara istilah dijabarkan dalam buku Memaknai Kehidupan yang disusun oleh Abdul Hamid 20209. Diambil dari buku tersebut, ikhlas artinya berniat hanya untuk mendapatkan ridho dari Allah dalam menolong orang lain tanpa menyekutukan-Nya. Ikhlas dapat bermakna membersihkan amalan dari pujian manusia karena tujuan menolong orang lain hanya semata karena Allah. Menolong Orang Lain Harus Dilakukan dengan Ikhlas Ilustrasi Menolong Orang Lain Harus Dilakukan dengan Ikhlas FotoUnsplashWalau mudah diucapkan, namun kata ikhlas memiliki makna luar biasa dalam ajaran Islam. Menolong orang lain harus dilakukan dengan ikhlas agar sesuai dengan sabda Rasulullah saw dalam sebuah riwayat hadist,"Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan, kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridho-Nya"HR. Abu Daud dan Nasa'i. Orang yang ikhlas dalam menolong orang lain tidak akan mengharapkan penghargaan dan penghormatan dari sesama manusia, karena tujuannya beramal semata karena Allah. Orang yang menolong orang lain dengan keikhlasan akan memetik hasilnya dan meraih pahala dari Allah. Alasan Menolong Orang Lain Harus Dilakukan dengan Ikhlas Menolong Orang Lain Harus Dilakukan dengan Ikhlas dalam Islam FotoUnsplashBerikut adalah 11 alasan menolong orang lain harus dilakukan dengan ikhlas. Mendapatkan pahala dari Allah menjadi tenang dan ibadah semakin manusia yang pemaaf, karena menyadari manusia butuh pertolongan manusia mudah diperdaya oleh emosi. Menjadi sosok yang hebat dan kuat. Selalu disayangi dan disenangi orang lain. Menambah keimanan terhadap Allah swt. Dijauhkan dari sifat-sifat kotor seperti ujub, takabur, dan iri. Hati lapang dan terasa ringan dalam menjalani hidup. Mendapat kemuliaan di sisi Allah bersyukur atas nikmat yang diberikan, serta menerima ketentuan dan ketetapan Allab swt. Menolong orang lain harus dilakukan dengan ikhlas agar sesuai dengan kalimat yang dikenal dalam Islam. Kalimat itu berbunyi, tidak ada satu pun obat yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali keikhlasan.DK
Istiqamahmerupakan jalan menuju ke surga. "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
loading...Sifat ikhlas yang begitu penting dalam amal ibadah, agar amalan-amalan tidak sia-sia dan tidak mendapatkan azab di dunia maupun akhirat kelak. Foto ilustrasi/ist Sifat ikhlas yang begitu penting dalam amal ibadah, agar amalan-amalan tidak sia-sia dan tidak mendapatkan azab di dunia maupun akhirat kelak. Dinukil dari buku 'Khutuwaat ilas Sa’adah' karya Dr. Abdul Muhsin Al Qasim Imam dan Khatib Masjid Nabawi yang telah diterjemahkan, dijelaskan tentang beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang bisa berlaku ikhlas dalam beramal, berikut di antaranya1. Selalu berdoaSelalu memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala, Dialah yang membolak-balikkan hati manusia. Zat yang ditangan-Nya-lah hidayah berada, tampakkanlah hajat dan kefakiran kepada-Nya. Mintalah selalu kepada-Nya agar Dia memberikan keikhlasan kepadamu. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu selalu memanjatkan doa ini;“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun.” Baca Juga 2. Sembunyikan amalBisyr ibnul Harits mengatakan, “Janganlah engkau beramal untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan."Jadi, amal yang tersembunyi -dengan syarat memang amal tersebut patut disembunyikan-, lebih layak diterima di sisi-Nya dan hal tersebut merupakan indikasi kuat bahwa amal tersebut dikerjakan dengan Selalu melihat amal orang-orang shaleh panutanPerhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shaleh terdahulu sebagai panutan kita. Allah ta’ala berfirman,أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan Al-Quran. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” QS Al An’am 90Bila perlu, baca buku-buku biografi para ulama, ahli ibadah, dan zuhhad orang yang zuhud, karena hal itu lebih mampu untuk menambah keimanan di dalam Menganggap remeh amalPenyakit yang sering melanda hamba adalah ridha puas dengan dirinya. Setiap orang yang memandang dirinya sendiri dengan pandangan ridha, maka hal itu akan membinasakannya. Setiap orang yang ujub akan amal yang telah dikerjakannya, maka keikhlasan sangat sedikit menyertai amalannya, atau bahkan tidak ada sama sekali keikhlasan dalam amalnya, dan bisa jadi amal shalih yang telah dikerjakan tidak bin Jubair mengatakan, “Seorang bisa masuk surga berkat dosanya dan seorang bisa masuk neraka berkat kebaikannya. Maka ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Sa’id menjawab, “Pria tadi mengerjakan kemaksiatan namun dirinya senantiasa takut akan siksa Allah atas dosa yang telah dikerjakannya, sehingga tatkala bertemu Allah, Dia mengampuninya dikarenakan rasa takutnya kepada Allah. Pria yang lain mengerjakan suatu kebaikan, namun dia senantiasa ujub bangga dengan amalnya tersebut, sehingga taktala bertemu Allah, dia pun dimasukkan ke dalam neraka Allah.”5. Khawatir amal tidak diterimaAnggaplah remeh setiap amal shaleh yang telah kita perbuat. Apabila telah mengerjakannya, tanamkanlah rasa takut, khawatir jika amal tersebut tidak diterima. Di antara do’a yang dipanjatkan para salaf adalah,“Ya Allah kami memohon kepada-Mu amal yang shalih dan senantiasa terpelihara.”Diantara bentuk keterpeliharaan amal shaleh adalah amal tersebut tidak disertai dengan rasa ujub dan bangga dengan amal tersebut, namun justru amal shaleh terpelihara dengan adanya rasa takut dalam diri seorang bahwa amal yang telah dikerjakannya tidak serta merta diterima oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,
GxPqwdm.
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/987
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/809
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/619
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/210
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/216
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/234
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/608
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/311
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/816
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/766
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/526
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/843
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/305
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/297
  • 4rwhsq2itx.pages.dev/934
  • menolong dengan ikhlas merupakan pengamalan sifat